Latest News

Showing posts with label PLTN - Internasional. Show all posts
Showing posts with label PLTN - Internasional. Show all posts

Sunday, December 25, 2011

AS Bangun Reaktor Nuklir Baru

Komisi Regulasi Nuklir (NRC) Amerika Serikat menetapkan reaktor nuklir terbaru. Seperti dikutip dalam laman NHK, baru-baru ini, penetapan tersebut akan diikuti dengan pembangunan pabrik tenaga nuklir baru. Pabrik itu akan digunakan sebagai sumber energi listrik bagi negara bagian Georgia.

Reaktor baru dibuat oleh perusahaan Westinghouse Electric, anak perusahaan Toshiba. Menurut NRC, reaktor itu aman karena dilengkapi dengan sistem pendingin saat keadaan darurat. Reaktor itu juga merupakan sumber pertama di AS sejak kecelakaan Pulau Three Mile pada tahun 1979.

Wakil Menteri Energi AS Steven Chu setuju dengan keputusan tersebut. Menurutnya, ini merupakan tonggak atas perkembangan reaktor AS dalam tiga dekade terakhir. Ia menambahkan, Pemerintah Barack Obama akan terus berkomitmen menjalankan proyek ini, di samping sebagai lahan pekerjaan baru bagi warga AS.(ULF)

Sumber : http://berita.liputan6.com/read/368878/as-bangun-reaktor-nuklir-baru

Monday, September 5, 2011

Reaktor Nuklir Iran Mulai Salurkan Listrik

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr, Iran, sudah mulai menyalurkan listrik ke seluruh negeri. Dengan beroperasinya PLTN ini, Iran menjadi negara pertama di Timur Tengah yang menggunakan reaktor atom untuk kebutuhan energi sehari-hari.

Menurut Badan Energi Atom Iran, dilansir dari Aljazeera, Minggu, 4 September 2011, PLTN Bushehr mulai menyalurkan listrik ke berbagai gardu listrik pada Sabtu malam pekan lalu pukul 23.29 waktu setempat.

"PLTN Bushehr menyalurkan 60 megawatt listrik ke gardu induk nasional," kata Hamid Khadem Qaemi, juru bicara Badan Atom Iran.

Qaemi mengatakan peresmian operasi PLTN ini baru akan dilakukan pada 12 September 2011. Saat ini, Bushehr hanya mengeluarkan 40 persen dari keseluruhan kapasitas listrik yang dimilikinya. Nanti, setelah diresmikan, PLTN ini diharapkan menghasilkan 1.000 megawatt atau sekitar 2,5 persen dari konsumsi listrik Iran.

Badan Atom PBB, IAEA, tidak berkomentar mengenai hal ini. Sebelumnya mereka bersama dengan negara-negara Barat telah berulangkali menentang instalasi nuklir Iran. Mereka khawatir Iran akan menggunakannya untuk membuat senjata. Namun ini dibantah oleh Mahmoud Ahmadinejad yang mengatakan nuklir mereka untuk keperluan energi dan medis.

Iran memulai instalasi Bushehr pada tahun 1975, sebelum terjadi revolusi. Instalasi ini awalnya dibuat oleh perusahaan Siemens Jerman sebelum akhirnya diambil alih oleh Rusia. Awalnya, PLTN ini dijadwalkan dapat beroperasi pada akhir tahun lalu, namun tertunda hingga tahun ini.

Rusia menyalahkan penundaan kepada Iran. Pihak Rusia mengatakan suku cadang PLTN sudah ketinggalan zaman dan tidak dapat digunakan lagi. Akhirnya Iran mengganti beberapa suku cadang dengan yang baru.

Para ahli mengatakan Iran tidak akan mampu membuat senjata nuklir di PLTN Bushehr. Hal ini dikarenakan Rusia hanya memfasilitasi pengayaan uranium bagi reaktor dan mengambil bahan bakar buangan yang dapat digunakan untuk membuat senjata berbahan plutonium. (umi)

Sumber : http://dunia.vivanews.com/news/read/244650-reaktor-nuklir-iran-mulai-salurkan-listrik

Wednesday, August 10, 2011

Malaysia Bangun PLTN Generasi-3 di Perbatasan Sumatera Utara

Kebutuhan energi yang semakin mendesak mendorong Malaysia memutuskan untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Lokasinya disebut-sebut di sebuah pulau milik Malaysia yang berbatasan dengan Sumatera Utara (Sumut), Indonesia.



Meski belum diketahui detail PLTN itu, namun anggota Tim Sosialisasi PLTN Badan Tenaga Atom Nasional (Batan) Wawan H Purwanto menyebut parlemen Malaysia sudah merekomendasikan penggunaan nuklir di lokasi itu sebagai energi alternatif.



"Negara jiran Malaysia sudah dipastikan mendirikan instalasi nuklir, tapi bukan di wilayah Indonesia tapi di pulau mereka sendiri. Memang kalau ditarik garis ya, di perbatasan Indonesia di sekitar Sumatera Utara," katanya kepada Pelita, di Jakarta, Selasa (19/4).



Selain Malaysia, negara tetangga Indonesia yang juga sudah memastikan mendirikan PLTN adalah Vietnam dan Thailand. Vietnam disebut-sebut berencana membangun 13 instalasi, sedangkan Thailand empat instalasi.



Sementara Singapura, seperti dikutip AFP, awal pekan ini menyatakan "masih jauh" dari pemanfaatan energi tersebut, sebagaimana dijelaskan Menteri Senior Negara untuk Perdagangan dan Industri S Iswaran.



Dirjen Badan Nuklir Malaysia Muhammad Lebai Juri mengakui reaktor yang akan mereka bangun adalah reaktor generasi-3 yang mereka klaim lebih baik dari Jepang.



"Reaktor sekarang adalah reaktor generasi-3 yang lebih baik dari Jepang. Di sini, di Malaysia, kita akan mencari sistem baru dengan memasukkan kapasitas sistem keamanan-nya," kata Muhammad dikutip Uvetmdingnews.



"Kami siap dan akan menentukan langkah-langkah tertentu jika terjadi kebocoran. Kami memiliki sejumlah badan-badan yang akan melakukan langkah-langkah pengamanan jika terjadi kebocoran. Anda harus tahu, Jepang membangun nuklirnya sejak tahun 1970, seperti reaktor nuklir generasi-1," sambungnya.



Dia tidak menyebut nama lokasi tempat yang paling tepat untuk membangun PLTN. Dia menambahkan, sejumlah pakar dari badan nuklir sedang menjajaki rencana ini. "Ada risiko namun teknologi berkembang dan kita juga harus memenuhi kebutuhan kita," kata Muhammad. Kebutuhan mendesak



Wawan H Purwanto menjelaskan, Indonesia memang sudah seharusnya segera merintis penggunaan energi nuklir sebagai energi pengganti bahan bakar fosil. Apalagi kebutuhan energi Indonesia setiap tahun terus meningkat. Jika pada tahun ini hanya sekitar 35.000 Megawatt, maka pada 2025, kebutuhan energi Indonesia sudah meningkat tajam menjadi 100.000 Megawatt.



"Padahal ketersediaan minyak bumi di Indonesia hanya tinggal 21 tahun lagi, gas 61 tahun, dan batubara hanya tersedia 80 tahun lagi," ungkapnya.



Dari sisi ketersediaan bahan baku nuklir seperti uranium,menurut Wawan H Purwanto, Indonesia sangat melimpah. Di Pulau Bangka, bahan baku uranium bisa memasok sampai 400 tahun.



"Di Kalimantan dekat perbatasan Malaysia, malah persediaan uraniumnya juga sampai dua pertiga, sementara Malaysia hanya sepertiganya," katanya.



Sampai saat ini, kata Wawan, Indonesia baru memiliki tiga reaktor itupun untuk tujuan riset seperti di Serpong, Bandung, don Yogyakarta dengan daya sekitar 90 Megawatt. "Selain sebagai riset, energi nuklir itu baru sebatas untuk digunakan pertanian, peternakan, dan kedokteran," ujarnya.



Wawan H Purwanto juga mengakui isu pembangunan energi nuklir di Indonesia menimbulkan pro-kontra di masyarakat karena sebagian besar belum memahami pentingnya memiliki energi nuklir, (rid/zis/jon)



Sumber : http://bataviase.co.id/node/647282



Monday, August 1, 2011

China to Build Nuclear Plant Using Fourth-Generation Technology in April

China will start building a nuclear power plant next month using fourth-generation technology that may be less susceptible to meltdown than Japan�s damaged Fukushima Dai-Ichi plant.

The �world�s first high-temperature, gas-cooled reactor� will be installed at Rongcheng in Shandong province, Cui Shaozhang, deputy general manager at Huaneng Nuclear Power Development Co., a unit of China Huaneng Group Corp., the nation�s largest power group, said in an interview yesterday in Singapore.

�There are differences between the Japanese and Chinese reactors,� Cui said. �Japan�s Fukushima plant was using old technology while Chinese reactors are more advanced.�

Japan is trying to prevent a meltdown at Fukushima, where the oldest reactor started operating in 1971, after cooling systems were knocked out by a 9.0-magnitude earthquake and tsunami on March 11.

The Rongcheng plant will use helium, an inert gas, in its cooling system, and reactor cores will be able to withstand temperatures exceeding 1,600 degrees Celsius (2,912 degrees Fahrenheit) for several hundred hours without melting down, China Business News said this week.

�The Chinese government has encouraged us with the pre- condition of safety and efficiency,� Cui said.

New Technology

China, planning to build more nuclear reactors than any other country, said on March 16 it suspended approval of all new atomic projects until a safety review is carried out. The country�s existing reactors use second-generation technology, the official Xinhua News Agency said on July 22.

�This fourth-generation reactor will make cooling totally independent of external power sources, making it much more safer,� said Jerzy Grynblat, nuclear business director at Sundbyberg, Sweden-based consultant Scandpower AB, said in Singapore today. �Developing new technologies where safety will be increased is very significant after what happened in Japan and countries re-looking their nuclear future.�

China Huaneng, China Nuclear Engineering Corp. and Tsinghua University are joint investors in the 200-megawatt Rongcheng demonstration project, according to Huaneng�s brochure. China National Nuclear Corp., the country�s biggest atomic plant builder, last July reported a successful test of an experimental reactor using fourth-generation technology.

China started operating its first commercial nuclear station in 1994. It currently has 14 reactors in operation, 26 under construction and 28 planned, according to data on the World Nuclear Association�s website.

Rising Capacity

The nation�s nuclear power capacity may reach 40 gigawatts by 2015 and exceed 70 gigawatts by 2020, Han Wenke, head of energy research at the NDRC, said in June. China had 10.82 gigawatts of nuclear power capacity at the end of 2010, the state-owned China Electricity Council said in February.

The nuclear industry has developed several generations of reactors starting with the first in 1950-60s, according to the World Nuclear Association�s website. There�s no such reactor today outside the U.K. The second generation units are used in the U.S. and France while early generation-3 reactor designs have been operating in Japan since 1996, according to the WNA.

�Generation IV designs are still on the drawing board and will not be operational before 2020 at the earliest,� it said. �Late 3rd generation designs are now being built.�

China�s fourth-generation helium gas-cooled reactor was designed and constructed by Tsinghua University of China, according to a research paper by Shouyin Hu on the IAEA website.

China Huaneng Group aims to produce about 35 percent of its electricity using cleaner technology by 2020 to cut pollution, President Cao Peixi said March last year. The company plans to reduce coal consumption per kilowatt-hour of electricity by about 10 percent by 2020, he said.

Sumber : http://www.bloomberg.com/news/2011-0...-in-april.html